Talkshow Perluni Tiongkok : Kampus tidak terfdaftar MoE, apakah bisa penyetaraan ?

Ditulis oleh : Esti Wulan Wijayanti,

Disunting oleh : Agung Ayu Dyah Pitaloka

Perlunitiongkok.com – Selasa 18 Agustus 2020, PERLUNI Tiongkok mengadakan talkshow bertajub “Kampus tidak terdaftar MoE, apakah bisa penyetaraan ?”. Talkshow ini membahas seputar keresahan mahasiwa kedokteran khususnya di Tiongkok yang takut apabila kampusnya tidak terdaftar di ministry of education Pemerintah Tiongkok maka tidak bisa penyetaraan di Indonesia . Terdapat tiga narasumber yang dihadirkan oleh PERLUNI Tiongkok untuk menjadi pembicara dalam talkshow kali ini yaitu, Bapak Yaya Sutarya yang merupakan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Dokter Alfadli Santowijaya; seorang dokter yang memiliki pengalaman penyetearaan di Indonesia dan kampus beliau di Tiongkok tidak terdaftar di MoE serta yang terakhir Dokter Stephanie Tjay, M.B.B.S, M.surg beliau adalah mahasiswa yang telah menempuh jenjang spesialis di Tiongkok dan sudah melakukan penyetaraan di Indonesia .

Narasumber pertama Bapak Yaya Sutarya menjelaskan  informasi penyetaraan ijazah dan anggapan kampus tidak terakreditasi. Menurut beliau anggapan kampus tidak terakreditasi itu adalah anggapan yang salah besar karena pada dasarnya tidak ada kampus di Tiongkok yang menyelenggarakan pendidikannya secara ilegal. Beberapa perguruan tinggi mulai membuka kelas kedokteran internasional dengan pengantar Bahasa Inggris , sehingga memang belum ada di dalam list MoE, tetapi bukan berarti tidak terakreditasi.

Berikut langkah-langkah penyetaraan yang juga disampaikan oleh Bapak Yaya : Langkah pertama untuk melakukan penyetaraan adalah dengan melakukan verifikasi ijazah secara online CDGDC (China academic Degree and Graduate education Development Center) . Pak Yaya menjelaskan bahwa hanya terdapat dua kampus yang tidak bisa melakukan penyetaraan yaitu Liverpool University dan Ningbo Notingham University kedua kampus tersebut merupakan kampus luar negeri yang membuka  cabang di Tiongkok sehingga CDGDC belum bisa mengeluarkan surat verifikasi terhadap kedua kampus tersebut, apabila terdapat Warga Negara Indonesia yang memilih dua kampus tersebut diharapkan memiliki alternatif pilihan kampus lain.

Langkah kedua jika surat CDGDC sudah keluar maka lanjutkan ke tahap selanjutnya untuk memproses surat keterangan lulus bagi perguruan tinggi yang pernah mengusulkan penyetaraan ijazah dan surat keterangan akreditasi bagi perguruan tinggi yang belum pernah mengusulkan penyeteraan ijazah di Kemenristekdikti.

Langkah ketiga melakukan penyetaraan ijazah online di laman http//ijazahln.newdikti.go.id/. Kemenristekdikti mengeluarkan dua jenis pemohon untuk persyaratan penyetaraan ijazah yaitu:

  1. Pemohon dari perguruan tinggi dan program studi yang sudah pernah disetarakan, dan
  2. Pemohon dari perguran tinggi dan program studi yang belum pernah disetarakan
Sumber : Youtube Perluni Tiongkok  

Pada segmen pertanyaan salah satu mahasiswa kedokteran Tiongkok atas nama Esti Wulan menanyakan “Jika kampus kita diakui dalam kedokteran bahasa china  tetapi belum diakui dalam kelas bahasa inggris sedangkan kita tercatat sebagai mahasiswa kedokteran kelas bahasa inggris, apakah Atase Pendidikan KBRI Beijing menganggap penyetaraan kami dalam kelas bahasa china ?” . Beliau kemudian menjawab, perlu dipahami bagi mahasiswa yang sudah lulus maupun akan lulus untuk pengakuan legalitas perguran tinggi yang ada di Tiongkok sebenarnya itu pada saat membuka atau memperluas program studi itu sendiri, kalau kita runtut SOP-nya panjang sekali. Apakah menggunakan bahasa inggris atau bahasa cina itu bukan menjadi isu lagi. Yang menjadi isu bagi KBRI kini adalah “apakah perguruan tinggi kalian diakui oleh kementrian pendidikan Cina ?”. Jadi sebenarnya yang kita pandang untuk penyetaraan bukan menggunakan bahasa cina atau bahasa inggris melainkan perguruan tinggi itu legal dan diakui atau tidak oleh Pemerintah Tiongkok mengenai status akreditasinya. Karena sesungguhnya jika prodi itu sudah dibuka oleh perguruan tinggi maka status legalnya sudah melekat, termasuk akreditasinya dan hal – hal lain yang berbau teknis. Hingga saat ini tidak ada perguruan tinggi yang dibubarkan karena akreditasi untuk mendirikan sebuah program studi itu sudah ketat prosesnya dari hulu ke hilir.

Bapak Yaya berpesan untuk seluruh mahasiswa kedokteran di Tiongkok untuk fokus terhadap pembelajaran kedokteran dan tidak terlalu meresahkan hal-hal yang berhubungan dengan penyetaraan kampus itu adalah urusan dari KBRI Tiongkok.


              Narasumber kedua Dokter Alfadli Santowijaya beliau memaparkan Alur atau tatacara penyetaraan ijazah di KEMENRISTEKDIKTI terdiri dari empat tahap yaitu :

  • membuat akun dalam situs:  http://ijazahln.new.dikti.go.id
    • Klik pendaftaran, form pendaftaran dan mengisi form sesuai dengan biodata diri, jangan lupa lampirkan pas foto terbaru
    • Mulai mengisi step kedua pengisian dokumen dan selanjutnya
    • Setelah melengkapi 100% semua dokumen, kita akan mendapatkan konfirmasi pengajuan melalui email

Dokter Fadli adalah Mahasiswa Kedokteran Tiongkok pertama yang melakukan penyetaraan di Indonesia. Beliau memaparkan ada sedikit perbedaan persyaratan bagi pemohon dari perguruan tinggi dan prodi yang BELUM pernah disetarakan yaitu membawa surat dari KBRI Beijing atau kantor Kementerian Pendidikan Negara setempat yang menyatakan bahwa perguruan tinggi kita di Tiongkok sudah terakreditasi. Jika semua proses sudah diselesaikan, maka kita tinggal menunggu konfirmasi dari Kemristekdikti apakah data kita layak untuk melanjutkan proses adaptasi di Indonesia atau tidak. Pengalaman dokter Fadli sampai akhirnya mendapatkan surat dari kemristekdikti untuk diajukan pengakuan adaptasi luar negeri ke KKI setelah menunggu lebih kurang 3-6 bulan.

Sumber : Youtube Perluni Tiongkok  

Dalam sesi pertanyaan selanjutnya, terdapat pertanyaan dari kuisioner pendaftar yang telah dibagikan, ada dua pertanyaan dari Saudari Efelin Adzani :  Pertanyaan yang pertama  mengapa memilih  Universitas Jambi sebagai program adaptasi ?  Beliau menjawab Karna sebelum memulai adaptasi, dr. Fadli magang di Rumah Sakit Annisa Jambi di IGD sebagai asisten dokter selama enam bulan, oleh karena itu beliau memilih Universitas Jambi sebagai tempat adaptasi, karena dirasa sudah cukup mengetahui kondisi dan situasi di lingkungan tersebut . Pertanyaan yang kedua,  berapa total  biaya program adapatsi dari awal hingga akhir ? Biaya yang dikeluarkan, dari awal ujian Rp.2,500,000,- lalu untuk adaptasi, setiap kampus biayanya berbeda beda, di Universitas Jambi biayanya 10 juta per-semester. Belum termasuk buku, belum snelli dan baju untuk jaga.

Dokter Fadli mengimbau pada mahasiswa kedokteran di Tiongkok agar mempertimbangkan  sebaik mungkin program adaptasi yang akan diambil. Beliau menganjurkan untuk memilih kampus  terakreditasi A atau B  dengan proses adaptasi yang dilakukan dalam kurun waktu  satu sampai dau tahun .

            Narasumber yang ketiga adalah Dokter Stephanie Tjay, M.B.B.S, M.surg beliau memaparkan  bahwa alasan dulu mengambil program magister dan menunda program adaptasi adalah karena ingin sekolah terlebih dahulu saat itu . Dokter Stephanie menyarankan kepada  mahasiswa untuk menyelesaikan program adapatasi terlebih dahulu setelah selesai S1 karena menurut beliau ketika sudah fokus menempuh program magister seiring dengan bertambahnya usia, materi untuk jenjang sarjana akan sulit diingat  sedangkan progtam adaptasi dimulai sejak jenjang sarjana.

Pada Segmen pertanyaan terakhir,  Saudari Esti Wulan kembali mengajukan pertanyaan tentang, “Apakah gelar M.surgery itu setara dengan gelar spesialis bedah  atau gelar magister kesehatan ?” , beliau lalu menjawab, “Di China master degree itu prosesnya 3 tahun, untuk mengambil proses spesialis di Indonesia itu lebih kurang 5 tahun, disarankan untuk teman teman yang ingin melanjutkan spesialis di luar Negri pastikan kurikulumnya  sama  dengan kurikulum  Indonesia.  Karena pada saat saya kembali ke Indonesia dan berbincang dengan salah satu kolegium bedah, beliau mengatakan bahwa kalau pendidikan saya hanya 3 tahun tidak dianggap sebagai spesialis tetapi lebih ke master digree atau bedah dasar di Indonesia, bisa dikatakan spesialis adalah gelar profesi,sedangkan master degree berarti hanya menyelesaikan rangkaian-rangkaian akademis tetapi belum mengambil profesi dokter bedah. Jadi, master degree dan spesialis itu berbeda.”.

            Dokter Stephanie memahami beberapa hal yang menjadi keresahan mahasiswa kedokteran, beliau berpesan kepada mahasiswa kedokteran di Tiongkok untuk menjalani segela proses perkuliahan dan adaptasi karena ketika kamu sudah melewati itu semua kamu akan menghargai dirimu sendiri, sebab bisa melewati waktu yang begitu  panjang.

Leave a Reply