Cerita Koas Mahasiswa; Tiongkok-Indonesia

Oleh : Agung Ayu Dyah Pitaloka  

                Tak hanya Adi Putra Korompis, cerita mengenai mahasiswa Indonesia yang sedang menjalani koasistensi di China maupun Indonesia juga datang dari lima orang lainnya. Mereka adalah Meldayanti Bangun Saputri, mahasiswi kedokteran Changsa Medical University yang kini sedang melakukan koas di Changsa Fourth Hospital;  Yovita Tjhin, sarjana kedokteran Peking University Health Science Center, yang pada tahun 2015 silam telah melakukan koasnya di Aerospace Central Hospital, China; Aisyah Ayu Lestari, mahasiswi kedokteran Jinzhou Medical University yang menjalankan koasistensi di Indonesia, tepatnya di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar dan Rumah Sakit Umum Daerah Batara Guru Makassar; Nun Adenin Irfan, yang juga mahasiswi kedokteran asal Jinzhou Medical University, saat ini pun sedang melakukan koasistensinya di Indonesia dan yang terakhir adalah seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya, ia juga merupakan seorang mahasiswa kedokteran Tiongkok yang tengah melakukan koas di Indonesia.

            Dari kelima narasumber ini, kami mendapatkan poin-poin penting yang dapat dijadikan bekal (pelajaran) bagi seluruh mahasiswa kedokteran Indonesia di Tiongkok yang akan segera melakukan koasistensinya. Bagi mereka yang menjalani koas di Tiongkok, rata-rata permasalahannya adalah bahasa. Menurut mereka banyak belajar bahasa mandarin sejak awal kuliah akan sangat membantu dalam hal komunikasi baik dengan pasien maupun dokter yang menjadi konsultan. Seperti yang dikatakan Melda bahwa terkadang pasien menggunakan bahasa daerah, sedangkan kita hanya belajar bahasa mandarin nasional seperti halnya bahasa ibu yang baku.

                   Terlepas dari kendala tersebut, terdapat banyak juga nilai lebihnya. Menjalani koas di Tiongkok sangatlah terjadwal, waktu istirahat pun tidak kurang. Peralatan medis dan sistem rumah sakit yang canggih amat sangat membantu dalam hal pendataan pasien, diagnosis juga terapi. Sisanya kembali lagi pada semangat, kelincahan dan keaktifan kita saat dihadapkan dengan pasien dan kasus yang ada. Ini di dukung oleh pendapat Yovita Tjhin yang juga menjalani koas di Tiongkok 2015 silam, “Kalau mau santai bisa santai, tapi kalau mau belajar bisa belajar banyak.”. Ia juga menegaskan kembali tentang betapa pentingnya keaktifan dan kesigapan kita. Berbeda dengan Melda, Yovita Tjhin tidak terlalu mempermasalahkan bahasa, karena ia telah tinggal di Tiongkok sejak di bangku sekolah menengah.

            Lalu, seperti apakah pengalaman mereka yang melakukan koas di Indonesia ? Bagi mahasiswa Indonesia yang berkuliah kedokteran di Tiongkok, tentu awalnya tidak mudah. Seperti yang dikatakan Aisyah, untuk menjalankan koasistensi di Indonesia kita harus melewati banyak proses dan  harus mempersiapkan berbagai macam dokumen yang diperlukan lebih awal, “Kalau untuk sistem preklinik sampai semester sembilan maka dari semester delapan sudah harus mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan”. Saat itu Aisyah mendaftar ke banyak rumah sakit tapi hanya diterima oleh beberapa rumah sakit saja, menurut Aisyah kuncinya harus tetap sabar dan punya niat yang kuat untuk menjalankan koasistensi di Indonesia, karena kalau setengah-setengah tak akan tahan dengan seluruh proses tersebut. Selain prosesnya yang sulit, masalah perbedaan waktu koas antara Indonesia dan Tiongkok pun lumayan jauh, dimana durasi yang di berikan  kampus  di Tiongkok jauh lebih sedikit di banding durasi yang ditetapkan di rumah sakit tempat Adenin menjalani koas di Indonesia, “Waktu yang di berikan pihak kampus hanya 48 minggu, sedangkan waktu yang berlaku di rumah sakit di sini kurang lebih sebanyak 96 minggu, otomatis dalam perbedaan durasi yang besar itu kami awalnya kesulitan untuk penyesuaiannya, tapi setelah di jalani ternyata bisa enjoy, menikmati sembari menyesuaikan dengan sistem yang ada,” ujarnya ketika diwawancara. Walau Indonesia sedang dalam masa kritis menghadapi pandemi Adenin dan Aisyah mengaku tetap dapat belajar banyak, dengan APD lengkap dan rapid test yang terjadwalkan setiap dua minggu sekali, awalnya Adenin merasa risih tapi seiring berjalannya waktu ia telah terbiasa.

            Berbeda dari Aisyah dan Adenin, seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya ini lebih menjelaskan tentang perbedaan standar serta peraturan-peraturan antar rumah sakit di Indonesia dan Tiongkok. Menurutnya beberapa perbedaan itu akan membingungkan pada mulanya. Untuk tahapan pengurusan berkas instansi terkait akan mempertanyakan legalitas surat mahasiswa Tiongkok apakah legal atau ilegal. Intinya semua tergantung pada penyesuaian dan pencapaian masing-masing individu. Anonim ini juga menjelaskan bahwa melakukan koas di Indonesia membuat kita menjadi lebih terbiasa dengan penyakit-penyakit yang ada pada standar kompetensi untuk dokter umum di Indonesia, selain itu juga bisa lebih terbiasa dengan lingkungan kesehatan disini, bahasa yang sama juga memudahkan dalam komunikasi dengan banyak pihak, dan yang terpenting ini akan menjadi poin tambahan bagi kita dalam segi ilmu, terutama saat placement test nantinya.

            Melalui sepenggal pengalaman mereka kita dapat menyimpulkan bahwa dimanapun kita memilih untuk melakukan koasistensi nantinya akan selalu sama apabila kita menjalani dengan tekun, sabar serta ikhlas. Karena di Indonesia maupun di Tiongkok sama-sama ada kurang dan lebihnya. Bagi teman-teman yang ingin melakukan koas di Tiongkok, agar diperdalam lagi bahasa mandarinnya. Lalu yang ingin kembali dan melakukan koas di Indonesia agar menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan lebih awal, cobalah untuk menghubungi beberapa rumah sakit terkait, sisanya berdoa dan berusahalah semaksimal mungkin dalam menunggu jawaban. Ketika lelah beristirahatlah, tapi jangan berhenti dan menyerah.

Semangat!                  

Leave a Reply