Bagaimana sih Mahasiswa Indonesia yang Berkuliah Kedokteran di China Menjalankan Koasistensinya ?

Ditulis oleh : Devi Nurpita

Disunting oleh : Agung Ayu Dyah Pitaloka

    Menjadi seorang dokter yang kompeten tidaklah mudah. Selain pendidikan akademik, calon dokter juga harus menyelesaikan pendidikan profesi yang tentunya membutuhkan waktu atau proses cukup panjang sebelum akhirnya dapat berkecimpung langsung dalam dunia kesehatan (rumah sakit). Mungkin bagi sebagian orang, setelah menempuh pendidikan panjang, calon dokter bisa dengan mudah menjadi dokter, namun realita di lapangan kadang tak sejalan dengan harapan dan tuntutan. Itu tergambar melalui bagaimana setiap dokter muda wajib menjalani koasistensi (koas) di rumah sakit pendidikan.

    Berbicara mengenai koas, tak semua mahasiswa kedokteran Indonesia di Tiongkok menjalankan koasnya di Rumah Sakit Tiongkok, beberapa diantaranya tetap memilih kembali menjalankan koas di rumah sakit dalam negeri. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui beberapa proses dan atau langkah-langkah yang wajib kita lewati sebelum menjalankan koasistensi (koas). Yuk kita ulas bersama! Berikut kami rangkum beberapa pengalaman mahasiswa Indonesia fakultas kedokteran di Tiongkok yang sedang menjalankan koasnya baik di Tiongkok maupun di Indonesia sendiri.

    Tahun ini merupakan tahun yang penting bagi Adi Putra Korompis, mahasiswa kedokteran Jinzhou Medical University yang tengah menjalankan koasnya di First Affiliated Hospital of Jinzhou Medical University ditengah pandemi covid-19. Syukurnya selama menjalankan koas di Tiongkok, covid-19 disana sudah teratasi dengan hampir nol jumlah kasus baru per harinya. Walau begitu, setiap orang di sana harus tetap mematuhi protokol kesehatan, untuk saat ini APD yang paling utama adalah menggunakan masker. Pada masa pandemi seperti ini tenaga kesehatan dibebaskan untuk keluar-masuk rumah sakit karena mereka sudah mendapatkan swab test dilengkapi dengan APD dari pihak terkait. Tak sama dengan tenaga medis, masyarakat umum diwajibkan untuk mengikuti standar yang telah ditetapkan pemerintah setempat, agar tidak keluar-masuk tempat umum. Kalaupun harus (mendesak) orang tersebut wajib memindai barkode (semacam aplikasi pemeriksaan yang sudah disediakan) dahulu. Aplikasi tersebut berguna untuk meninjau apakah seseorang pernah keluar masuk dari suatu daerah atau tidak, serta dapat mengetahui riwayat pengobatan yang bersangkutan.

    Covid-19 juga menyebabkan beberapa kegiatan koas dilakukan secara daring selama dua bulan, setelah dua bulan barulah koasistensi dijalankan di rumah  sakit. Ketika menjalankan koas, masing-masing mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok berisi  seorang Dokter dan beberapa mahasiswa baik mahasiswa asing, mahasiswa china maupun mahasiswa post-graduate. Dokter tersebut bertindak sebagai konsultan saat menjalani koasistensi di rumah sakit nantinya.

    Dari beberapa departemen yang terdapat di dalam rumah sakit tersebut, dua puluh diantaranya wajib untuk diikuti saat koas, seperti Internal Department yang dibagi lagi menjadi: Cardiology, Respiratory, Digestive, Haematology, Endocrinology, Urology, Obstetric & Gynecology Department. Lalu Surgery Department terdiri atas : Neurosurgery, Urosurgery, Orthopedic Surgery, Thoracic Surgery dan General Surgery. Kemudian Ophthalmology Department, Oncology Department, Pediatric Department, Neurology Department, Dermatology Department dan Radiology Department. Sedangkan Emergency Department terdiri atas : Emergency of Internal Medicine, Emergency Surgery, Emergency of Neurology, Emergency of Pediatrics, Emergency of Foot and Ankle, dan Emergency of Infectious Disease. Setiap Departemen di atas dikepalai oleh satu direktur, yang mana direktur tersebut bertanggung jawab terhadap masing-masing Departemen yang ada dalam rumah sakit tersebut. Terdapat tiga Departemen yang tidak diwajibkan atau tidak ada pada jadwal mahasiswa asing, tiga Departemen tersebut hanya diwajibkan untuk mahasiswa lokal (setempat), yaitu Rheumatology Department, Infectious Disease Department dan Department of Community Medicine.

    Penyebaran covid-19 yang terus meluas inilah, penyebab mengapa mahasiswa koasistensi tidak diperbolehkan untuk masuk dalam Infectious Disease Department. Adi menjelaskan bahwa sistem regulasi rumah sakit di Tiongkok sangatlah teratur dan tertata rapi, mulai dari tata laksana pasien masuk, alat-alat pengobatan yang tentunya sangat modern, hingga saat pasien keluar.

    Tak dapat dipungkiri, menurut Adi kendala utama saat menjalani koas di Tiongkok adalah mengenai bahasa, “Belajar mandarin harus semaksimal mungkin karena kita akan diberikan kesempatan yang sama selama bahasa mandarin kita bagus, selain bahasa nggak ada kendala apapun, Alhamdulillah lancar semua”, ujarnya.

    Yang pasti adalah, akan selalu ada kurang dan lebih dalam menjalani koas di Tiongkok. Kelebihannya yaitu, kita mendapatkan lebih banyak referensi dan juga bisa lebih paham mengenai sistem yang berlaku pada rumah sakit di luar negeri. Kurangnya, kalau ingin kembali ke Indonesia agak banyak proses yang harus dilalui lagi, tentu karena adanya beberapa perbedaan sistem pendidikan, peraturan, serta di Indonesia sendiri memiliki kebutuhan yang tidak sama seperti di Tiongkok.

    Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa peran bahasa mandarin untuk menjalani koas di Tiongkok sangatlah penting, karena jika kita tidak mendalami bahasanya ditakutkan akan menimbulkan kesalahan komunikasi yang tentunya akan berdampak pada saat diagnosis pasien. Selain itu, jika ingin kembali mengabdi untuk negeri maka jangan putus semangat. Walaupun proses yang dilalui akan lama lagi tapi percayalah semua akan terbayar saat kita telah berhasil melaluinya. Dalam hidup, semuanya butuh proses kan ? Seperti halnya darah yang dipompa jantung ke seluruh tubuh, hayo hafal gak tahapan sirkulasinya ?

Semangat!

Leave a Reply